Bolehkan Umat Islam Merayakan Tahun Baru?

Hari-hari ini, sebagian umat Islam disibukkan dengan hingar bingar perayaan tahun baru. Perayaan tahunan yang telah menjadi ‘trend’ dengan berbagai macam kegiatannya . Lalu, bagaimanakah seharusnya umat Islam menyikapi perayaan tahun baru ini?

Untuk menjawab persoalan ini, pertama-tama setiap muslim haruslah memiliki prinsip beragama dengan baik dan bena
r. Setiap kegiatan haruslah merujuk kepada tuntutan agama yang bersumber dari Alloh SWT dan Muhamad SAW, bukan berdasarkan rujukan lain misalnya budaya orang kafir.

Islam mengajarkan, bagi mereka yang bertaqwa yang selalu ingat akan kematian, dilarang keras ber-TASABUH, yakni larangan menyerupai budaya orang kafir, apalagi budaya yang terkait dengan ajaran agamanya. Perayaan tahun baru 1 Januari dan Natal adalah satu paket ibadahnya orang nasrani di gereja. Sehingga berdasarkan hal ini, tidaklah bisa diterima secara syar’i, jika sebagian umat islam bersikap lunak membolehkan dirinya merayakan acara tahunan ini. Karena acara ini adalah ibadahnya murni orang kafir.

Banyak alasan seseorang merayakan tahun baru ini, misalnya karena tahun universal, mengikuti trend, dan lain sebagainya. Namun, seorang muslim haruslah peka / berhati-hati karena ini adalah salah satu trik orang kafir untuk me-murtadkan dan menyesatkan. Tujuannya, seorang muslim memandang perkara dosa tidak dianggap dosa karena sudah terbiasa. Ia menjadi lalai dan tidak memiliki pegangan kuat terhadap agamanya.

Kondisi ini sudah disinyalir dalam QS Ali Imran 69;

“Segolongan ahli Kitab ingin menyesatkan kamu. Padahal (sesungguhnya) mereka tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya”

Banyaknya umat islam yang merayakan tahun baru ini memang sungguh ironis, dan sudah diprediksikan nabi untuk menyatakan kondisi umat di akhir zaman.

“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat bertanya : “Siapa mereka yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani” (HR. Bukhari)

Harus disadari, bahwasanya Yahudi dan Nasrani adalah pelopor budaya / peradaban zaman sekarang melalui propaganda media yang dikuasainya. Sehingga seseorang menganggap dirinya tidak modern jika tidak mengikuti budaya meraka. Alhasil, betapa ironsinya orang islam berduyun-duyun memeriahkan perayaan tahun baru, sementara event itu sendiri adalah perayaan ibadahnya orang nasroni.

Waktu bagi setiap muslim, janganlah disia-siakan. Hidup tidak bisa diulang. Umur yang dikaruniakan akan diminta pertanggungjawaban saat berhadapan dengan Alloh SWT kelak. Setiap orang akan dengan mudah dibuka file catatan amalnya. Jangan sampai umur kita habis tidak dalam ketaataan. Namun sebaliknya, dihabiskan dengan berpoya-poya dan bersenang-senang. Apalagi membuang waktu dengan kegiatan mudharat dan dosa, salah satunya ikut memeriahkan ibadah agama lain.

“Dikutip dari khutbah Jum'at Mesjid Darussalam Kota Wisata, Khotib: DR Daud Rasyid MA”

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Bolehkan Umat Islam Merayakan Tahun Baru? ini dipublish oleh Unknown pada hari Jumat, 09 November 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Bolehkan Umat Islam Merayakan Tahun Baru?
 

0 komentar:

Posting Komentar